Hujan

Surat cintaku hari ini, aku tujukan pada hujan, yang daritadi menjatuhkan airnya hingga detik ini.

Hujan,
Apa kau tidak lelah untuk selalu jatuh dan kehilangan bulir-bulir, tetes-tetes airmu kepada bumi?
Apa kau tidak bosan untuk selalu menangis dan murung di awan pipimu?
Apa kau tidak ingin sesaat saja menjadi warna-warni, seperti penghujung dari turunnya hujanmu?

Aku tahu, kau tidak lelah, bosan, maupun ingin.

Hujan,
Jangan merasa kecewa apabila, banyak orang menghujatmu saat kau datang, secara keroyokan, agar bumi yang gersang ini jadi basah, dan berbau khas dirimu.
Jangan merasa terhina apabila, banyak orang yang tadinya mencercamu, tiba-tiba inginkan hadirmu, karena bumi yang gersang ini menjadi sangat panas.
Jangan merasa hebat apabila, banyak orang penghujat dan pengingin hadirmu, kau guyur dan kau kepung rumahnya sehingga terendam oleh air bahtera darimu.

Aku tahu, kau kadang merasa kecewa hingga terhina. Lalu dengan hebatmu, kami, manusia ini kau beri ludahan dari bibirmu, sehingga tenggelam dalam rumah kami sendiri.

Tapi itulah dirimu,
Hujan.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Moö, Perkomboran, dan Hamburger.

Sajak Kebenaran.

pleasant