6.

Hampir seminggu aku menuliskan surat bertuan yang tak akan dibaca sama sekali.

Aku kosong dalam kerinduan. Terpojok dalam segala situasi, karena kesalahan bodoh yang dibuat sendiri.

Pagi ini, aku masih saja terjaga. Menunggu apakah kamu akan datang ke meja yang sudah aku siapkan, dan aku ada disana, tentu saja, menunggumu.
Kedatangan yang mungkin tidak akan terjadi dan akhirnya menjadi sebuah penantian yang sia-sia, lagi.

Pagi ini, aku merasakan getar cukup hebat di ulu hati. Bukan karena rasa senang, karena aku rasa ini hari kebalikan.
Seakan jaring-jaring di hatiku siap untuk melucuti masing-masing pegangannya. Agar aku binasa. Mati karena patah hati.

Pagi ini, aku ingin menangis, tapi mataku cukup tangguh untuk melawan perasaanku.
Ulu hatiku seakan dihunus oleh sesuatu yang tak tampak, namun terasa sangat sakit.
Aku ingin mengeluarkan air mata tersebut. Tapi tak ada cukup air mata untuk dikeluarkan. Atau untuk menangisi ketidakhadiranmu.
Menangisi kehadiranmu yang tak bersuara.
Kehadiranmu yang tak bergeming.
Yang tak membosankan.
Tak ada lagi.

Pagi ini, aku yakin kamu sudah terlelap, dalam mimpi dan khayalanmu.
Akan suatu hal dimana hanya kau yang mengetahuinya
Akan suatu mimpi anak lelaki yang tidak biasa, namun bisa kutebak.
Akan keinginanmu untuk tidak menginginkanku.
Akan bayangan masa lalu yang sengaja aku hadirkan untuk membuatmu tidak akan ada dihidupku, lagi.
Akan semua hal yang pernah aku dan kamu lakukan namun itu seperti noda oli di baju yang hitam, fana.

Pagi ini, aku berusaha meyakinkan cinta, bahwa aku tidak sendiri. Aku adalah pejuang lainnya yang tidak mendapat dukungan.
Aku masih yakin bahwa hanya aku sendiri yang mengerti harus bagaimana.
Namun, keyakinan itu tiba-tiba hilang,
sirna seketika,
jatuh pada titik nila yang merusak sebelangga.
Air susuku ternyata tak mendapatkan tempat yang sepantasnya.
Dibiarkan terbuka, basi, hingga bau busuk.
Dijatuhkan begitu saja, lalu wajahku disiram air tuba.

Aku dijadikan kambing hitam.

Pagi ini, aku tidak merasa bersalah, sedikitpun.
Walaupun pada simbol keselarasan terdapat satu titik hitam di yin dan satu titik putih di yang, namun aku seperti tanpa hati, tanpa rasa bersalah.

Pagi ini, aku masih rindu.
Rindu pada suara yang tak bersuara.
Rindu pada hembusan nafas yang mengeluarkan decit kecil.
Rindu pada diam yang seakan meronta ingin dibebaskan.
Rindu pada tubuh yang hanya diisi oleh asap rokok dan minuman beralkohol.
Rindu pada rambut ikal yang tak pernah disisir dan dibiarkan berputar mencari arahnya.

Pagi ini, aku tetap akan rindu dan berusaha berair mata, Sapta.

Comments

  1. hari ini surat bertema ya, kamu ceritanya belum pas dengan temanya, cek tl poscinta yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. maap mba, aku salah hari, harusnya yg hari sebelumnya ak post itu tema hhhh

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Moö, Perkomboran, dan Hamburger.

Sajak Kebenaran.

sleep