Berhitung

Tiga jariku menari. Dibawahnya terdapat tuts piano panjang yang sudah mapan untuk disentuh. Jariku membelainya. Dan menekannya.Lalu datang lagi jejariku yang lain.
Empat.
Lalu mereka mulai meniru apa yang sudah dilakukan tiga jemariku yang lain.
Lima. Sekarang bukan jemari lagi. Mataku mencuri-curi pandang kepada jam dinding rumah. Tik-tok-tik-tok-tik. Ganjil. Ya, hanya berdetak lima kali.

Enam. Aku sudah genap sekarang. Aku mulai melanjutkan berhitung. Tujuh, delapan, sembilan.Sudah tak terasa lagi lamanya aku hidup.Sembilan puluh tahun yang lalu aku hidup, dilahirkan dari liang senggama ibuku. Menangis, lalu ibu bapakku bahagia. Aku masih kecil dan belum tahu apa-apa.
Di hari ulang tahunku yang ke sembilan puluh ini, aku hanya berharap aku mati diusiaku yang 91 tahun. Semoga anak cucuku bisa memaklumi.


Solo, 4 Maret 2013

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Moö, Perkomboran, dan Hamburger.

Sajak Kebenaran.

pleasant