Surat Kepada Angin

Halo angin,

Aku ingin selalu menyapamu. Tiap pagi, saat fajar menyambut terang. Tiap siang, saat surya menyambung fajar. Sampai senja hingga malam lagi yang siap merayakan hari baru.
Apakah kau tahu? Bahwa aku disini kesepian, dengan rambutku yang kau sentuh disetiap waktuku. Aku kesepian, malamku direnggut oleh bintang dan siangku dicuri oleh matahari. Aku tak punya apapun selain senja yang setia. Dengan warna nya yang jingga, walau kadang kelabu, kadang oranye, kadang keunguan. Warna-warni senja yang selalu menemaniku, mewarnai kekosonganku yang hanya hitam dan putih. Aku masih beruntung bahwa warna itu hitam dan putih. Kau tahu mengapa? Karna warna itu tegas, tidak bercampur menjadi abu-abu. Makanya, aku sedih apabila senjamu berwarna kelabu. Disitu pula kau pasti menemukanku sudah berdebu, tapi tenang saja aku belum menjadi abu.

Aku selalu ingin kau peluk. Aku ingin terbang bersamamu! Aku iri denganmu! Mengapa orang-orang bisa merasakan hadirmu padahal kau tidak nyata? Mengapa orang-orang terkadang takut denganmu padahal kau tidak marah? Mengapa orang-orang terkadang merindukan belaimu padahal kau tidak benar-benar membelai mereka? Aku ingin kau jawab semua pertanyaanku, Angin. Aku selalu merasakan hadirmu, walau kau tak disisiku. Aku iri denganmu, akan selalu iri.

nb: aku ingin tanya, dimana rumahmu? Aku ingin sesekali mampir dan bercerita


Pengagummu,

Safira


Solo, 7 Desember 2012 14:03 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Moö, Perkomboran, dan Hamburger.

Sajak Kebenaran.

pleasant