Aku Ingin Jadi Jeda Mu

'Apayangsedangkaulakukan?'tanyakupadaJeda. 'Aku hanya ingin menyempurnakanmu, memberimu nafas disetiap kata yang kau ucap.'

Jeda menghela nafas sebentar lalu ia mulai menjelaskan dengan panjang lebar, mirip puisi mungkin. Namun, aku senang mendengarkan setiap ceritanya, semua puisinya, dan seluruh penjelasannya. Jeda punya gaya menarik untuk mengungkapkan itu kepadaku. Tapi entah, hanya kepadaku saja atau kepada yang lain juga.

'Aku tidak akan berpanjang lebar kali ini, namun aku hanya ingin tahu apakah kau memperbolehkanku menjadi Jeda untukmu?' tanya Jeda. Kali ini aku hanya termangun diam, mataku kosong, tidak percaya apa kata Jeda barusan. Aku tidak sadar menampar pipi kanan dan kiriku bergantian, sakit rasanya, tanda bahwa aku sedang tidak bermimpi. 'Hey... Jangan melamun.' kata Jeda menyadarkankan. Senyum tipisnya membuat hangat setiap insan yang memandangnya. Oooh, indahnya dunia apabila kita selalu berjalan berdua kemanapun kita pergi, Jeda. Kita sedang berjalan menuju entah-kemana berdua. Itu hobi kami. Ah, kenapa aku hilang fokus untuk menjawab pertanyaan Jeda? Apakah ini kesalahanku karena bertanya kepadanya tadi? Dan apakah aku harus menjawab pintanya jika aku sudah menjadikan dia Jeda di setiap kata yang aku ucap? Aku memang menyayangi Jeda, namun beberapa kali saja aku selalu mengelak kata hatiku. Sungguh bodoh juga aku ini. Aku ingin kau menyempurnakanku, Jeda. 'Tanpa sadar aku sudah mengijinkan setiap jiwamu itu masuk kedalamku. Aku sudah menerima nafasmu yang menyempurnakanku disetiap kata yang aku ucap. Aku memperbolehkanmu menjadi Jeda untukku, yang aku mau. Aku tersesat tanpamu. Kata-kataku menjadi sandung bagiku. Aku beruntung mendapatkanmu. Kau lah Jeda yang tepat untukku.'

Mulai saat itu, aku sudah disempurnakan oleh Jeda.


Solo, 9 Desember 2012.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Moö, Perkomboran, dan Hamburger.

Sajak Kebenaran.

pleasant